Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Masukkan Kode Menu Di Sini

Anoreksia Nervosa dan Cara Mengobatinya

Saat ini penampilan fisik menjadi banyak perhatian orang sehingga banyak orang yang melakukan diet tanpa memikirkan kesehatannya. Sangat susah untuk membedakan antara diet yang normal dengan diet yang berbahaya karena tahap awal dari suatu gangguan makan bisa sangat susah untuk diketahui. Kapankah suatu diet menjadi masalah bagi kesehatan fisik dan emosi? Bagaimanakah kehilangan berat badan menjadi patologi? Menjawab pertanyaan ini sangat susah, terutama apabila orang tersebut belum kehilangan berat badan yang cukup banyak. Namun, bagaiman pun pertanyaan ini penting, semakin awal gangguan makan ditangani, makin besar kemungkinan untuk sembuh dari Anoreksia, karena jika tanda dan gejala dari gangguan makan ini dibiarkan sampai menjadi kebiasaan, kebanyakan orang harus berjuan selama bertahun-tahun untuk terbebas dari kebiasaan buruk ini.

Anoreksia nervosa merupakan salah satu sindroma yang disebabkan oleh gangguan psikis. Anoreksia nervosa merupakan satu gangguan makan yang ditandai oleh gangguan citra tubuh dan membatasi jumlah makanan dengan amat ketat.

Anoreksia nervosa juga sering diartikan oleh masyarakat kebanyakan sebagai peristiwa penolakan makan seseorang, yang biasanya oleh gadis remaja, karena ia takut menjadi gemuk atau oleh karena sebab histerik lainnya.

Penyebab Anoreksia Nervosa
Anoreksia nervosa dapat disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut: 

  1. Faktor biologi
    Pasien anoreksia nervosa mengalami penyangkalan terhadap rasa lapar. Penyangkalan terhadap rasa lapar ini bisa disebabkan oleh opiat endogen. Penelitian sebelumnya menunjukkan peningkatan berat badan yang berarti pada beberapa pasien yang diberi opiat antagonis.
    Rasa lapar menghasilkan beberapa perubahan biokimia dalam tubuh, kejadian seperti ini sering juga nampak pada pasien depresi. Fungsi tiroid juga menjadi tertekan, kelainan ini hanya bisa dikoreksi dengan kaliminasi. Kelaparan juga menyebabkan amenorrhea yang menunjukkan kadar hormon (luitenizing hormon, FSH, gonadotropin, realising hormon). Meskipun begitu, beberapa pasien anoreksia nervosa menderita amenorrhea sebelum kehilangan berat badan yang signifikan.
  2. Faktor sosial
    Pasien anoreksia nervosa menemukan dukungan atas perilaku mereka karena pandangan masyarakat akan tubuh yang kurus dan olah raga. Tidak ada gambaran spesifik yang menghubungkan antara penyebab anoreksia dan hubungan dalam keluarga. Namun, beberapa studi menunjukkan pasien-pasien anoreksia nervosa mempunyai masalah hubungannya dengan keluarga. Pasien anoreksia nervosa mempunyai sejarah keluarga yang depresi, ketergantungan alkohol, atau gangguan makan.
  3. Faktor psikososial dan psikodinamik
    Anoreksia nervosa merupakan reaksi dari tuntutan remaja untuk kebebasan yang lebih. Penderita anoreksia nervosa memiliki harapan akan peningkatan fungsi sosial dan sexual mereka. Pasien anoreksia nervosa umumnya kurang percaya diri, banyak dari mereka merasa tubuh mereka dibawah kontrol orang tua mereka. Membentuk diri sendiri mungkin merupakan suatu usaha untuk mendapat pengakuan sebagai orang yang spesial dan unik.
    Klinis psikoanalitik yang mengobati pasien anoreksia nervosa umumnya setuju bahwa pasien-pasien muda tidak dapat berpisah secara psikologi dengan ibu mereka. Pasien-pasien anoreksia nervosa merasa keinginan makan adalah suatu kerakusan dan tidak bisa diterima, oleh karena itu, keinginan tersebut harus diabaikan. Orang tua merespon hal ini dengan ketakutan apakah anak mereka akan makan dan pasien mengabaikan ketakutan orang tua mereka.

Diagnosa
Anoreksia nervosa biasanya terjadi pada umur 10 sampai 30 tahun, sangat jarang terjadi diluar dari range ini. Setelah umur 13 tahun, kemungkinan untuk mengidap anoreksia meningkat sangat drastis, 85 % dari pasien anoreksia nervosa, berkisar antara umur 13 tahun dan 20 tahun. Sebagian besar penderita anoreksia dimulai pada umur 17-18 tahun.

Dalam pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa edisi ke III (PPDGJ – III). Pedoman diagnostik anoreksia nervosa adalah sebagai berikut:

  1. Ciri khas gangguan adalah mengurangi berat badan dengan sengaja, dipacu dan atau dipertahankan oleh penderita.
    Untuk mengetahui secara pasti, dibutuhkan hal-hal seperti dibawah ini : Berat badan yang ideal berkisar antara 15 % dibawah berat badan normal dan 15% di atas berat badan normal. Berat badan normal sendiri bagi wanita dapat dihitung sebagai berikut = tinggi badan - 110, sedangkan untuk pria = tinggi badan - 100. Diluar range itu dapat dikategorikan tidak ideal.
    Pada penderita pria yang masuk masa pubertas ada kemungkinan gagal mencapai berat badan yang diharapkan selama periode pertumbuhan.
  2. Penderita anoreksia pada umumnya berusaha melakukan usaha pengurangan berat badan secara berlebihan seperti berikut:
    • Merangsang muntah oleh diri sendiri.
    • Menggunakan pencahar.
    • Olah raga berlebihan.
    • Memakai obat penekan nafsu makan dan atau diuretika.
  3. Terdapat distorsi “ body image” dalam bentuk psikopatologi yang spesifik dimana ketakutan gemuk terus menerus menyerang penderita, penderita memiliki penilaian yang berlebihan bahwa berat badan yang rendah adalah bagus.
  4. Adanya gangguan endokrin yang meluas, melibatkan hypothalmic-pituitary ayis, dengan manifestasi pada wanita sebagai amenorrhea dan pada pria sebagai kehilangan minat dan potensi seksual.
  5. Jika anoreksia nervosa terjadi pada masa prepubertas, perkembangan puber tertunda atau dapat juga tertahan (pertumbuhan berhenti, pada anak perempuan buah dadanya tidak berkembang dan terdapat amenorrhea primer, pada anak laki-laki genitalianya tetap kecil). Pada penyembuhan, pubertas kembali normal, tetapi menarche terlambat.

Diagnosa Banding
Dalam melakukan pengecekan kita harus yakin bahwa pasien tidak memiliki penyakit yang dapat menyebabkan kehilangan berat badan (contoh, tumor otak atau kanker) sebelum menilai bahwa seseorang menderita anoreksia.

Kehilangan berat badan, kebiasaan makan yang aneh, dan muntah dapat terjadi pada beberapa gangguan mental, gangguan depresi, dan anoreksia nervosa mempunyai beberapa gejala yang sama seperti perasaan depresi seperti menangis, susah tidur, sering merenung, dan kadang-kadang memiliki kecenderungan untuk berpikir bunuh diri. Bagaimanapun juga kedua gangguan tersebut memiliki beberapa gejala yang berbeda. Umumnya pasien dengan gangguan depresi mengalami penurunan nafsu makan sedangkan pasien anoreksia nervosa memiliki nafsu makan normal dan merasa lapar.

Hanya pada stadium yang parah dari anoreksia nervosa pasiennya mengalani penurunan nafsu makan. Penderita anoreksia memiliki tipikal yang sangat perhatian terhadap kandungan kalori makananan sedangkan pada penderita depresi, pasien tidak takut akan kegemukan atau gangguan citra tubuh, seperti pada penderita anoreksia nervosa.

Anoreksia nervosa harus dibedakan dari bulimia nervosa. Bulimia nervosa adalah suatu gangguan dimana terdapat episode Ginge-eating diikuti mood yang terdepresi. Seperti penderita anoreksia, penderita bulimia memiliki kecenderungan mencela diri sendiri dan menginduksi muntah dan mempertahankan berat mereka dibawah berat badan normal, namun berat badan pasien bulimia nervosa jarang berada kurang dari 15 % berat badan normal mereka.

Proses penyakit anoreksia nervosa bervariasi, terjadi secara spontan, berat badan yang turun naik diikuti relaps, penyakit yang secara berangsur-angsur memburuk dan berakhir dengan kematian akibat komplikasi dari kelaparan. Penelitian menunjukkan tingkat mortalitas (angka kematian) dari penderita anoreksia berkisar antara 5-18 %.

Indikasi bahwa penyakit sudah membaik adalah pangakuan akan kelaparan, ketidakdewasaan yang berkurang dan membuktikan penghargaan terhadap diri sendiri. 30 – 50 % dari pasien anoreksia nervosa memiliki gejala bulimia nervosa, dan biasanya gejala bulimia terjadi kurang dari 1 ½ tahun setelah timbulnya anoreksia nervosa.

Proses Penyembuhan
Terapi yang menyeluruh dibutuhkan untuk menangani kasus anoreksia nervosa, termasuk didalamnya hospitalisasi jika dibutuhkan dan psikoterapi terhadap individu dan keluarganya.
  1. Hospitalisasi
    Yang menjadi perhatian utama dalam penanganan anoreksia nervosa adalah mengembalikan keadaan gizi pasien, sebab dehidrasi, kelaparan dan gangguan keseimbangan elektrolit dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius bahkan dapat menyebabkan kematian. Keputusan untuk memasukkan pasien ke rumah sakit didasarkan pada kondisi medis umum pasien atau dari kerja sama pasien.
  2. Psikoterapi
    Kebanyakan pasien anoreksia nervosa membutuhkan tindak lanjut setelah keluar dari rumah sakit. Bahkan dalam kasus yang kurang parah, hospitalisasi bahkan tidak dibutuhkan. Kebanyakan pasien mengalami gangguan pada masa remaja. Meskipun psikodinamik, peran keluarga pada terapi tidak dibutuhkan pada tingkatan awal terapi, terutama jika pasien anoreksia nervosa masih merasa lapar. Psikoterapi yang berorientasi pada insight hanya berguna pada pasien anoreksia nervosa yang telah stabil.
  3. Terapi biologis
    Anti depresiva sering digunakan dan sering berguna. Siproheptadin (periactin) mungkin membantu, karena khasiat samping yang menambah berat badan. Anti depresiva sertonik seperti fluaksetin (prozae), sertralin (zoloft) dan paroksetin (paxil) mungkin dapat membantu. Beberapa bukti menunjukkan elektrokonvulsiva terapi (ECT) berguna bagi kasus-kasus anoreksia nervosa dan gangguan depresi mayor.
 

Mengenai Saya

Popular Posts

SELAMAT DATANG DI BLOG INI....
Saat ini saya sedang mencoba ikut beberapa kontes SEO untuk menguji pengetahuan saya tentang SEO...Mohon dukungan teman-teman untuk artikel saya yang ada pada menu di atas ya...

Artikel Terbaru

FBI-BET.COM TARUHAN BOLA CASINO SBOBET ONLINE BONUS 100% ALL PRODUK
kontes SEO fbi-bet.com taruhan bola casino sbobet online bonus 100% all produk mempertandingkan posisi banner pada Google Image Search. Mohon dukungannya

attribut